Nikmat Keberuntungan

Sejak memutuskan untuk menjadi Ayah 24 jam bagi Rafika, saya hampir tidak pernah pergi ke area kampus atau rumah sakit lagi. Sebagian besar waktu saya habis bersama Rafika di kamar, jalan-jalan di sekitar, bermain di masjid, atau motoran keliling komplek. Begitu pula dengan aktivitas saya, hampir semuanya dilakukan bersama Rafika.

Sampai kemudian saya menyadari perasaan bahwa saya kurang produktif. Ya, saya jadi sulit membaca dan menulis saat bersama Rafika. Saya hampir tidak bisa belajar serius ketika bersama Rafika. Saya mudah mengantuk dan ikut tertidur saat menemani Rafika dari bermain sampai tidur. Sehingga, aktivitas sehari-hari saya hanya seputar bermain dan menemani Rafika sampai tidur. Kalaupun ada waktu luang, misalnya saat Rafika tidur, selalu habis untuk urusan rumah tangga seperti bersih-bersih rumah, mencuci, dan lainnya.

Tentu, semua hal tersebut di atas adalah sebuah konsekuensi ketika seseorang memutuskan untuk menjadi pengelola urusan domestik dan pengasuh anak. Dan sebenarnya, itu bukanlah sebuah hal buruk. Hanya saja, saya merasa ada yang kurang. Saya merasa seharusnya bisa melakukan hal lebih tanpa meninggalkan kewajiban tersebut.

Sampai akhirnya, saya pun mendiskusikan masalah ini dengan Dek Zahra. Saya menanyakan pendapatnya tentang wacana, saya bekerja menjadi asisten penelitian sebagai sambilan saat mengasuh Rafika. Setelah berdebat beberapa lama, akhirnya kami menyepakati beberapa aturan main soal wacana saya tadi.

Pertama, saya harus mengutamakan Rafika dibanding pekerjaan. Kedua, Rafika tidak boleh dititipkan atau diacuhkan saat saya bekerja. Artinya, saya baru bisa bekerja saat Rafika tidur dan tidak boleh lalai terhadap tugas mengurus Rafika. Ketiga, jangan sampai Rafika sakit atau kelelahan karena ikut bekerja dengan saya. Keempat, kita membagi tugas untuk menyelesaikan urusan rumah tangga. Siapa yang lebih dahulu pulang, atau berangkat lebih siang, dia yang bertugas menyelesaikan.

Setelah kesepakatan tersebut kita buat, saya mulai menjajaki dan mencari lowongan pekerjaan yang sesuai agar tidak mencederai kesepakatan yang sudah dibuat. Pekerjaan yang saya cari kriterianya adalah, waktunya tidak seharian, fleksibel, dan tidak mengikat. Selain itu, lingkungan kerjanya harus baby-able untuk Rafika, karena otomatis akan ikut bekerja. Dan, sudah pasti pekerjaannya harus memperbolehkan membawa bayi.

Saya pun coba men-scroll ulang grup-grup media sosial yang biasanya terdapat informasi lowongan pekerjaan. Mulai dari asisten penelitian, ganti jadwal jaga dokter, sampai mengisi acara bakti sosial. Saya mencari dan membaca satu per satu, namun belum menemukan yang sesuai dengan kriteria di atas. Saya tanya teman-teman atau senior yang sudah lebih dulu menjadi asisten penelitian, namun semuanya sepertinya keberatan jika harus membawa bayi. Berhari-hari saya menunggu dan mencari informasi, masih belum menemukan juga.

Sampai ketika saya hampir berputus asa, dan ingin membatalkan niat untuk nyambi bekerja, tiba-tiba ada chat yang masuk lewat aplikasi Line. Chat dari seorang kakak tingkat yang kebetulan saya kenal baik, karena sama-sama suka mengaji.

Assalaamu’alaikum, Mi. Kamu sibuk apa sekarang? Daftar jadi asisten penelitian di Radiologi, yuk.” Chat tersebut masuk diikuti broadcast message tentang lowongan pekerjaan yang dimaksud.

Wa’alaikumussalaam, Mas. Alhamdulillaah, lagi sibuk mengasuh Rafika, hehe. Kenapa tiba-tiba ngajakin aku?” Saya bertanya penasaran.

“Soalnya aku nyari yang suka ngaji juga, biar lingkungan kerjanya enak. Kalau asisten penelitian di Radiologi modelnya kerja sebagai tim. Jadi, kalau anggota timnya cocok, kan lingkup kerjanya jadi enak.” Kakak tingkat saya menjelaskan.

“Tapi, kalau aku kerja harus bawa Rafika, Mas. Gimana?”

“Nah, kalau itu aku nggak bisa jawab. Kamu coba tanya dulu ke contact person yang tertera itu.” Kakak tingkat saya memberikan saran.

*****

Saya tidak langsung mengiyakan ajakan kakak tingkat saya tersebut. Bahkan, saya juga tidak langsung menghubungi contact person untuk bertanya tentang izin membawa bayi. Saya masih memikirkan, apakah ini adalah lowongan pekerjaan yang saya cari atau ini hanyalah ujian dari Allaah swt untuk mengecek keseriusan saya.

Setelah istikhaarah dan memantapkan diri, saya coba menghubungi contact person dari informasi lowongan pekerjaan di Departemen Radiologi tersebut. Tak lupa, saya menanyakan perihal membawa bayi ke kantor. Dan jawabannya sungguh tidak saya duga.

Ooh, sepertinya boleh. Dulu, salah satu pembimbing kami malah sering bergantian membawa anak-anaknya ke kantor.”

MaaSyaaAllaah, salah satu kriteria yang paling utama sudah terpenuhi. Padahal, sangat jarang lingkungan kerja di ranah kesehatan yang memberi izin tentang hal tersebut. Maka, bismillaah, saya coba apply pendaftaran. Saya kirimkan berkas surat motivasi, transkrip akademik, dan curiculuum vitae. Rencananya, saya akan menanyakan perihal kriteria lainnya saat wawancara.

*****

Beberapa hari kemudian, saya dipanggil untuk wawancara. Salah satunya dengan Kepala Departemen. Saat saya datang untuk wawancara dengan beliau, saya agak bingung dengan pertanyaan pertama beliau.

“Kamu sudah hafal Al-Quran ya, Mas?” Tanya beliau sembari membuka salinan curiculuum vitae milik saya.

Alhamdulillaah, sudah, Dok.”

“Sejak kapan? Dulu mondok di mana?” Tanya beliau lagi.

Alhamdulillaah, sejak SD Kelas III, Dok. Dulu, saya menyelesaikan hafalan Al-Quran di Pondok Yanbu’ul Quran Kudus, Dok.” Saya menjawab masih dengan kebingungan.

“Lho, Pakdhe-ku itu punya pondok untuk menghafal Al-Quran juga di Kudus. Pondoknya besar juga. Jangan-jangan kamu mondok di sana?” Beliau tiba-tiba tampak bersemangat.

“Kalau boleh tahu, apa nama pondoknya Yanbu’ul Quran yang dikelola oleh anak-anak dari Mbah Kyai Haji Arwani Amin melalui Yayasan Arwaniyyah?” Saya mencoba memastikan.

Beliau pun langsung menghubungi saudaranya lewat telepon. Setelah berbincang sejenak dan menanyakan tentang pondok yang dimaksud, beliau bilang ke saya,

“Ya Allaah, Mas. Bener pondoknya, itu. Berarti kamu muridnya Pakdhe-ku dulu. Aku masih keponakannya Pakdhe Ulin Nuha Arwani.” Beliau menjelaskan dengan wajah sumringah.

Allaah! Allaahu akbar! Tidak pernah saya menyangka, kalau ternyata Kepala Departemen Radiologi adalah keponakan dari kyai saya di pondok dulu. Seolah, ini adalah tanda bahwa memang Allaah swt ingin menempatkan saya di sini melalui pekerjaan sebagai asisten penelitian.

Dan setelahnya, saya bahkan merasa tidak seperti sesi wawancara. Kami seolah merasa sangat dekat. Kami malah berbincang tentang Al-Quran, tentang kesibukan sehari-hari, tentang keluarga, dan lainnya yang tidak sesuai dengan alur wawancara. Satu-satunya pembahasan tentang wawancara pekerjaan adalah soal izin untuk membawa bayi ke kantor.

Beliau pun menjelaskan, bahwa sebenarnya tidak ada larangan membawa bayi secara tertulis. Namun, membawa bayi ke kantor yang notabene adalah lingkungan rumah sakit, tentu bukanlah sebuah hal yang bijak. Rumah sakit adalah tempat paling membahayakan dan infeksius untuk anak-anak. Beliau pun melarang saya dengan halus untuk membawa Rafika ke kantor untuk bekerja demi kebaikan Rafika agar tidak tertular penyakit.

Sebagai gantinya, supaya saya tetap bisa bekerja, dan tim asisten penelitian Radiologi tidak terganggu pekerjaannya, beliau memutuskan untuk memindahkan kantor dan ruang kerja. Ya, kantor asisten penelitian Radiologi dipindah dari lingkungan rumah sakit ke dalam area kampus. Sehingga, saya tidak perlu pergi ke rumah sakit dan tetap bisa membawa Rafika sembari bekerja.

Saat saya mengutarakan rasa tidak enak karena merepotkan, beliau malah mengatakan bahwa memang idealnya kantor penelitian departemen itu bukan di area rumah sakit. Karena domain penelitian adalah akademik, jadi sebaiknya di area kampus.

MaaSyaaAllaah, Allaahu Akbar. Sungguh, kalau sudah begini, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Betapa mudahnya Allaah swt memberikan pekerjaan dengan semua kriteria yang saya harapkan. Padahal, beberapa saat sebelum informasi pekerjaan ini muncul, saya sudah hampir putus asa.

*****

Saya sering dibilang oleh teman-teman sebagai orang yang beruntung. Beruntung memiliki keluarga yang kompak dan erat. Beruntung memiliki hafalan Al-Quran sejak anak-anak. Beruntung bisa sekolah di MAN Insan Cendekia. Beruntung bisa masuk FKKMK-UGM. Beruntung saat koass, sering mendapatkan tempat belajar di rumah sakit jejaring yang baik dan nyaman. Beruntung saat koass sering mendapat bagian penguji yang baik dan murah nilai. Beruntung menikah dan punya anak di usia muda. Dan segala keberuntungan lainnya.

Tidak salah memang. Karena saya juga menyebutnya begitu. Keberuntungan yang diberikan Allaah swt kepada saya entah sebab apa. Barangkali keberuntungan ini karena doa-doa orang tua, doa istri saya, doa kawan dan sahabat saya, dan doa orang kepada saya yang sengaja maupun tidak.

Tapi, ada satu hal yang menurut saya menjadi faktor penting dalam mendapatkan keberuntungan dari Allaah swt. Sebabnya adalah karena Allaah swt sudah lebih dulu memberikan kesulitan dan cobaan di aspek lain kehidupan saya. Maka, dengan kesulitan tersebut, Allaah swt berkenan memberikan kemampuan untuk bersabar pada saya dan kemudahan di tempat lainnya.

Hal ini sesuai dengan firman Allaah swt dalam surat Al-Insyiraah ayat 5-6,

Maka, sungguh bersama dengan kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama dengan kesulitan terdapat kemudahan yang menyertai.

Maka, jika kita ditimpa musibah atau kesulitan, cara terbaik untuk bereaksi adalah dengan bersabar. Sabar, sabar, dan sabar sampai Allaah swt turunkan bantuan dan kemudahan. Seringkali, kita terlalu fokus pada masalah dan kesulitan sehingga tidak sadar bahwa Allaah swt sedang memberikan kemudahan dan bantuan untuk kita.

Begitu pula jika ada orang atau teman yang kita lihat sebegitu beruntung, tentu itu karena kebaikan Allaah swt kepadanya sebagai ganti kesulitan yang Allaah swt berikan pula kepadanya. Hanya, yang mereka tampakkan atau orang lain lihat tentangnya adalah bagian baik dan beruntungnya saja. Tentu bukan bermaksud pamer, hanya untuk ber-tahadduts bin ni’mah agar menambah rasa syukur bersama. Biarlah perjuangan, kesulitan, dan sakit yang diterima menjadi simpanan pahala di akhirat kelak.

Toh, bukankah keburukan dan kesulitan tidak sebaiknya diumbar?Yaa Allaah, kuatkan pundak kami, tambahkan kesabaran dalam hati kami, berilah kami petunjuk, dan masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan kelak di akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *