Lebih dari Sekedar Nutrisi

Usia Rafika sudah memasuki bulan keenam. Usia yang kami tunggu-tunggu. Karena di usia itulah ada milestone besar yang menjadi penentu hari-hari Rafika selanjutnya. Milestone tersebut adalah lulusnya kami memberikan ASI eksklusif untuk Rafika.

Enam bulan ke belakang, terasa betul memberikan ASI eksklusif banyak tantangannya. Terlebih untuk kondisi kami yang berkebalikan. Drama larangan bawa bayi ke kampus, ruang laktasi ditiadakan, pumping di tempat nongkrong mahasiswa yang selalu ramai, ASIP habis, mati lampu sampai semua ASIP cair, Rafika menolak minum ASIP, mastitis berkali-kali, tidak sempat pumping karena kerja pasien, dan drama-drama lain sudah terlewati. Beruntung sekali Mas Fahmi sangat suportif dan sigap dengan setiap dinamika yang ada. Alhamdulillaah tsumma Alhamdulilaah.

Tinggal kemudian, menyiapkan diri untuk fase selanjutnya, yakni fase Makanan Pendamping ASI atau MPASI.


Fase MPASI adalah fase yang juga krusial bagi seorang bayi. Ibarat bangunan, MPASI adalah tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua, sedangkan masih banyak lantai yang nantinya ia capai. Keberhasilan MP ASI sungguh akan menentukan bagaimana ia mencapai lantai-lantai selanjutnya.

Satu hal penting yang menjadi urgensi MPASI adalah perkara kecukupan nutrisi. Menginjak usia 6 bulan, nutrisi dalam ASI tidak lagi adekuat untuk memenuhi kebutuhan bayi. Karena kami fakir ilmu dalam hal ini, jauh hari sebelum Rafika 6 bulan kami sudah ikut kelas, membaca textbook, membaca setiap highlight dr. Meta Hanindita, dan mewawancarai para pendahulu kami. Ilmu yang kami pelajari kemudian bermuara pada diskusi yang kami lakukan hampir tiap malam.

Dari diskusi inilah insight yang kami dapat diejawantahkan menjadi action plan. Tentang bahan apa saja yang mestinya dipakai, takaran tiap-tiap unsur, cara memasaknya, pembagian peran, sampai unsur tauhid yang ingin kami masukkan kami bahas tuntas.

Poin terakhir di atas barangkali agak ‘aneh’. Tapi bagi kami, unsur tauhid inilah yang lebih penting dibanding yang lainnya. Supaya kemudian, setiap ikhtiar kami memberi nutrisi berupa MPASI untuk Rafika, menjadi washilah kokohnya iman dan lurusnya tauhid Rafika.


Hal paling mendasari “unsur tauhid” yang kami maksud adalah perkara niat. Niat memberikan MPASI untuk Rafika tidak hanya sampai pada supaya nutrisi Rafika tercukupi sehingga tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. Lebih jauh, supaya tiap suap yang kami berikan untuk Rafika menjadikannya pribadi yang senantiasa taat pada Allaah dan bermanfaat untuk ummat. Berangkat dari niat inilah, ikhtiar selanjutnya lahir.

Ikhtiar selanjutnya adalah mengupayakan supaya rizki yang kami gunakan untuk menyediakan MPASI Rafika berasal dari rizki yang halal dan paling thayyib. Seringnya, bagian rizki yang ini kami ambilkan dari fee atau honor mengisi kajian atau majelis ilmu yang lain. Karena fee atau honor kajian inSyaaAllaah adalah rizki yang berkah. Salah satu alasannya adalah karena fee tersebut didapat karena aktivitas dakwah. Atau jika sedang tidak ada slot dari fee, kami ambilkan dari gaji yang sudah dikurangi kewajiban bulanan dan sedekah.

Pernah suatu kali saya belanja kebutuhan MPASI Rafika dengan sisa uang hutang. Saat itu saya sedang tidak membawa cash kecuali uang tersebut. Jadilah saya bayar dengan uang hutang yang masih tersisa. Sampai di rumah, Mas Fahmi marah dan memutuskan untuk membuang semua belanjaan saya. Awalnya memang terasa sayang. Tapi keputusan tersebut menjadi keputusan terbaik untuk menjaga kehalalan makanan yang Rafika makan.


Ikhtiar lainnya adalah memilihkan bahan makanan yang terbaik untuk Rafika. Terbaik di sini berarti nutrisinya mencukupi, higienenitasnya baik, dan yang paling penting sesuai dengan apa yang sering kami makan sehari-hari. Poin terakhir ini amat penting. Apalagi hari ini, orang berlomba untuk menggunakan bahan-bahan impor yang diklaim memiliki nutrisi yang lebih baik. Poin ini penting untuk mengenalkan Rafika apa yang biasa kami makan serta menanamkan prinsip untuk menghargai produk lokal demi mensejahterakan orang-orang di lingkungannya.

Selain memperhatikan bahan makanan, hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah proses pengolahan. Proses pengolahan sejatinya tidak hanya mencakup “bagaimana cara”-nya saja. Tapi juga aspek spiritual yang menyertainya.

Selain menanamkan niat seperti di atas setiap sebelum memasak, perlu dipastikan juga keadaan diri dan hati sebelum memasak. Kami biasa menyiapkan MPASI tepat setelah subuh. Kenapa? Karena artinya kami sudah selesai dengan kewajiban kepada Allaah, masih dalam keadaan berwudhu, dan dengan memasak kami menjauhkan lambung kami dari kasur. Yang terakhir ini menjadi penting, karena para ulama memakruhkan tidur setelah subuh karena waktu subuh adalah waktu yang berkah. Seperti doa Rasulullaah,

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” – H.R. Abu Daud

Sebelum dan sembari memasak, kami mengusahakan supaya lisan kami tidak diam. Kami awali dengan melanjutkan Al-Ma’tsurat. Setelah Al-Ma’tsurat selesai, baru disambung dengan do’a khusus supaya makanan tersebut menjadi makanan yang lahap Rafika makan sampai habis, menjadi makanan yang menumbuhkan Rafika menjadi anak yang kuat, sehat, shalihah, qanitah, hafidzah, serta menjadi hadiah yang membahagiakan ummat. Setelahnya, kami sambung dengan takbir, tasbih, kalimat tauhid serta tahmid disertai doa supaya Rafika senantiasa menjadi anak yang mengagungkan, mensucikan, mengesakan, serta memuji Allaah SWT.

Somehow, memanjatkan doa dan dzikir di atas saat memasak seringkali membuat kami meneteskan air mata. Karena harapan kami begitu tinggi, sedangkan dosa-dosa kami begitu banyak. Sehingga seringpula kami menambahkan istighfar dalam daftar dzikir ketika memasak supaya menjadi washilah Allaah untuk menggugurkan dosa-dosa kami.


Tidak berhenti di proses memasak saja, proses menyuapkan makanan tersebut juga perlu diperhatikan. Sebelum makan, jangan sampai terlewat membaca Basmallaah. Dilanjutkan dengan do’a supaya Allaah memberi Rafika kemudahan dan kelahapan untuk makan. Somehow, lahapnya anak adalah pemberian Allaah. Jadi sebelum men-sounding Rafika untuk lahap dan menghabiskan makanan, terlebih dahulu doa semestinya dilantunkan.

Setelah do’a, barulah sounding supaya Rafika makannya lahap. Kalimat-kalimat yang sering kami ucapkan ke Rafika diantaranya,

“Kakak makan yang lahap ya, hap hap hap hap hap sampai habis tidak tersisa”

“Kakak anak yang bersyukur, tidak menyia-nyiakan makanan, selalu menghabiskan makanan sampai habis”

“Kakak menghargai Ayah Bunda ya. Ayah sama Bunda udah siapin makan kakak. Ayah sama Bunda seneng kalau kakak makannya habis”

“Kakak, Allaah nggak suka anak yang mubazir. Mubazir itu temennya setan. Kakak habiskan ya maemnyaa, biar Allaah ridho sama kakak”

Sering juga kami bernyanyi dengan lagu gubahan sendiri supaya Rafika lahap makannya.

Meski doa dan sounding sering sekali dilancarkan, tidak berarti kemudian Rafika jadi lahap dan habis makannya. Adakalanya ia lahap sampai benar-benar habis. Tapi tidak jarang ia mingkem dan me-lepeh setiap suap bubur yang berhasil masuk ke mulutnya. Kalau sudah begini, ada dua cara supaya Rafika mau makan.

Pertama, agak memaksa Rafika untuk makan. Terutama jika Rafika terindikasi kurang suka menu hari itu. Biasanya cara ini Mas Fahmi yang melakukan karena saya tidak tega. Pipi Rafika dipencet supaya ia mau buka mulut. Terus begitu sampai ia menangis kencang tanda sudah kenyang.

Barangkali cara ini agak kontroversial. Tapi bagi kami, cara ini menjadi sebuah pendidikan supaya Rafika tidak pilih-pilih makanan dan menanamkan bahwa apa yang baik untuk kita belum tentu kita sukai. Ketika cara ini dilakukan, setelahnya kami selalu minta maaf,

“Kakak, Ayah sama Bunda minta maaf ya maksa kakak untuk makan. Ayah sama Bunda sayang sama kakak. Ayah sama Bunda pengen pastikan kakak tercukupi nutrisinya. Maafin Ayah sama Bunda ya kak”

Atau jika cara pertama tidak berhasil atau tidak memungkinkan, kami menunda makan Rafika sampai minimal 30 menit kemudian. Barangkali Rafika memang masih kenyang dan belum mood makan. Pemberian jeda minimal 30 menit ini supaya Rafika mengenal konsep lapar.


Somehow, masa MPASI adalah masa yang dinamis dan tricky sekali. Perlu banyak trial and error dalam praktiknya. Disinilah kemudian, perlu banyak-banyak doa memohon taufik dari Allaah. Tidak hanya supaya anak jadi lahap makannya. Tapi juga supaya masa MPASI menjadi sarana untuk orangtua belajar. Selain belajar sabar, juga belajar untuk menanamkan nilai-nilai baik pada anak. Serta, lebih jauh, supaya menjadi sara mendekatkan diri pada Allaah. Karena bagaimanapun, penggenggam hati anak-anak kita adalah Allaah. Kalau mau anak makannya lahap, maka dekati dulu sang pemilik hatinya.

Ah, semoga kita senantiasa dalam bimbingan-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *