Menggenap

Kalau besok aku meninggal duluan, Dek Zahra jangan ragu buat nikah lagi ya. Begitupun kalau Dek Zahra yang duluan, aku nggak boleh ragu buat nikah lagi”

Saat itu kami sedang dalam perjalanan dari Solo ke Jogja, berbincang tentang keadaan Ibu pasca ditinggal Bapak meninggal. Pernyataan di atas adalah kesimpulan dari percakapan sore itu. Sebuah pernyataan yang mungkin bagi orang lain tabu, tapi semenjak menyelami kondisi Ibu sebagai single parent, saya mengiyakan juga meski awalnya berat.


Menikah adalah syariat yang bertujuan untuk menjaga kualitas ummat. Sebagai sebuah syariat, pernikahan memiliki tujuan yang sama dengan tujuan diturunkannya syariat Islam, yakni maqashidusy syarii’ah. Setidaknya ada lima hal yang harus dijaga oleh syariat, yakni jiwa (hifzhun nafs), keturunan (hifzhun nasl), ilmu/akal (hifzhul ‘aql), harta (hifzhul maal), dan agama (hifzhud diin).

Sejak menikah, terasa sekali kelima tujuan syariat tersebut dapat ‘terjaga’ melalui pernikahan. Lebih terasa lagi ketika memahami keadaan Ibu yang single parent. Sebuah keadaan yang saya kira lebih rentan daripada ‘single’ saja, karena tanggungjawab yang lebih besar dan adanya pengalaman berrumahtangga yang settle.


Setelah Bapak meninggal, otomatis pemasukan keluarga jadi berkurang. Pemasukan rutin hanya didapat dari praktek dokter Ibu di rumah, yang belum tentu juga hasilnya. Dari sini, kami jadi lebih paham kalau menikah itu menjaga harta (hifzhul maal).

Menghadapi kebutuhan yang begitu banyak sedangkan pemasukan yang tidak pasti, Ibu harus mencari pekerjaan yang lain supaya ada pemasukan yang lebih besar. Akhirnya, keluarlah Ibu dari rumah untuk mengajar sebagai dosen, sembari kuliah S3 dan S1.

Dengan peran yang begitu banyak dan tanggungjawab yang begitu besar, kuliah S3 ibu seringkali menemui hambatan. Entah karena tidak adanya waktu mengerjakan disertasi karena harus mengajar, terdistraksi urusan di rumah, kurangnya biaya untuk membayar SPP, dll. Ibu juga jadi jarang sekali bisa mengaji secara langsung (bukan melalui youtube) karena tidak ada waktu. Dari sini, kami jadi paham bahwa menikah betul-betul dapat menjaga ilmu (hifzhul ‘aql).

Ibu adalah sosok yang kuat. Tapi beban yang Ibu emban memang sangat berat. Sekuat-kuatnya perempuan, pasti ada sisi lemah terutama pada emosinya. Pernah ada saat di mana Ibu menghadapi banyak masalah di kantor dan di pendidikannya sekaligus. Masalah-masalah ini boleh jadi tidak dibawa ke rumah. Tapi efek dari masalah itu akhirnya membuat Ibu lebih mudah marah. Sehingga sedikit saja kami di rumah membuat kesalahan, reaksi Ibu bisa di luar dugaan. Dari sini, kami jadi paham bahwa menikah betul-betul dapat menjaga kesehatan mental seseorang (hifzhun nafs).

Setelah Ibu menyelesaikan S3-nya, Ibu mendapat tawaran untuk menjadi dosen di luar pulau. Sebuah kesempatan emas untuk mengaktualisasi diri Ibu. Kami semua pun setuju. Tapi diambilnya kesempatan ini berarti Ibu harus bolak-balik ke luar pulau sendirian tanpa mahram. Yang kemudian, kami sadari dapat mengancam terjaganya anak-anak Ibu (hifzhun nasl) dan agama Ibu (hifzud diin).


Memahami keadaan Ibu, kami ingin sekali Ibu menikah lagi. Sebuah keinginan tabu, yang belum pernah kami katakan langsung pada Ibu. Hanya dalam doa kami dan obrolan berdua kami berani mengungkapkannya.

Maka, kami senang sekali ketika hari itu Ibu mengirim pesan. Memberi tahu bahwa ada kakak kelasnya dulu yang bermaksud untuk melamarnya. Seorang duda yang Ibu kenal baik, dan mengenal Ibu dengan baik. Tanpa banyak babibu, kami setuju.

Tidak sampai seminggu, beliau datang ke rumah bersama keluarga besarnya. Menyampaikan khitbah. Tidak sampai dua minggu setelah khitbah, Ibu dan Papa menikah secara resmi. Sebuah proses yang begitu cepat, tapi membawa konsekuenosi begitu hebat. Ada banyak hal yang harus dikorbankan, termasuk pekerjaan Ibu di luar pulau. Tapi yang Ibu korbankan itu, tidak sebanding dengan yang Ibu dapat. Ibu mendapatkan separuh agamanya lagi.


One thought to “Menggenap”

  1. Assalamualaikum..afwan mau tanya mengenai postingan mba zahra..
    Benarkah adanya suatu keterangan/hadist atau apa kalau tidak salah saya perna drngar ad yg menyebutkan bahwa seorang istri yg ditinggal mati oleh suaminya kemudian tidak menikah lagi akan dipertemukan dg suaminya nanti di surga dan jika istri tsb selama di dunia menikah lg maka nanti di akhirat akan dibersamakan dg suami terakhir atau suami yg paling baik diantara keduanya namun jika suami yg ditinggal mati oleh istrinya kemudian suami menikah lagi,nanti akan dipertemukan dg seluruh istrinya di surga?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *