Jual Beli Dengan Allaah Swt

Awal-awal pandemi COVID-19 dulu, kami masih bersantai-santai ria. Mengingat ketika itu, saya masih bekerja sebagai asisten peneliti, meski harus WFH. Tabungan juga masih banyak. Dek Zahra yang sedang koass juga libur. Jadilah, kami merasa seolah mendapatkan waktu family time yang maksimal.

Sebulan berlalu, saya mendapatkan informasi kalau kontrak kerja saya diputus sampai pandemi COVID-19 berakhir. Artinya, pemasukan dari pekerjaan sebagai asisten peneliti tidak ada lagi. Dek Zahra juga masih libur dan belum ada penjelasan kapan mulai masuk koass lagi. Jadilah, kami bertiga dengan Rafika menjadi pengangguran di rumah bersama.

Selayaknya pengangguran pada umumnya, awalnya kami bahagia. Kami senang karena bisa maksimal membersamai Rafika. Seminggu berikutnya, kami mulai gelisah karena merasa kurang produktif lagi dan kegiatannya itu-itu saja. Kami juga mulai merasakan dampak pandemi COVID-19 ini. Terutama soal ekonomi. Ya, pengeluaran kami mulai tampak lebih besar daripada pemasukan. Meski kebanyakan pengeluaran juga bukan untuk kepentingan kami.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba peruntungan mengambil program internship sekalian menyelesaikan proses pendidikan kedokteran saya. Daripada pendidikan kami tertunda semua, bukankah lebih baik jika tetap jalan salah satu. Tetapi, qadarullaah, tiga kali kesempatan saya coba memilih, tetap gagal mendapatkan wahana untuk program internship.

Kecewa? Jelas. Bingung? Tentu. Saya ingin mencari pekerjaan lain namun banyak orang yang di-PHK dan butuh pekerjaan pula. Buruh online pun kehilangan pemasukan yang cukup signifikan. Saya ingin memaksimalkan keterampilan seperti analisis data, menulis, desain, dan sejenisnya, malah laptop saya mati total.

Satu-satunya kabar yang melegakan kami adalah, adanya kepastian bahwa program koass Dek Zahra bisa dilanjutkan sementara melalui daring. Itu artinya, Dek Zahra akan aktif melanjutkan pendidikan kembali. Tapi itu belum menyelesaikan persoalan kami, yaitu soal ekonomi yang terdampak.


Di tengah kondisi kami yang terbatas itulah, Allaah swt seolah ingin memberikan pelajaran kepada kami. Tanpa sengaja, kami mendapatkan cerita jika ada teman Abah yang butuh uang untuk biaya pengobatan anaknya. Saat itu, kami sedang menabung untuk beli laptop agar Dek Zahra bisa maksimal kuliah dan saya bisa menulis lagi. Tapi, apa daya perasaan kami tak tega. Akhirnya, sebagian besar tabungan kami kita pinjamkan dulu ke teman Abah ini.

Memang dia bukan orang yang kami kenal. Dekat dengan kami pun tidak. Tapi mendengar cerita tentang kondisinya dari Abah, kami merasa berada dalam kondisi yang jauh lebih beruntung. Dan alasan terbesar mengapa kami akhirnya memberikan pinjaman sesuai kebutuhan adalah, kami bersyukur Allaah swt tidak menempatkan kami dalam kondisi tersebut.

Dari Abu Dzar ra, ia berkata, “Kekasihku (Rasuulullaah saw) berwasiat kepadaku dengan tujuh hal. (1) Supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka; (2) Beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku; (3) Beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku; (4) Aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan laa haula walaa quwwata illaa billaah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allaah swt; (5) Aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit; (6) Beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allaah swt, dan (7) Beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

H.R. Imam Ahmad

Dan, maaSyaaAllaah, selang beberapa waktu, Allaah swt ganti pinjaman tersebut dengan dibayarnya gaji saya yang tertunda dua bulan. Jadilah kami bisa membeli laptop baru. Meski uang yang dipinjam belum dikembalikan.

Baru saja kami menghela napas lega, Allaah swt kembali berikan ujian. Kami diberitahu oleh Pak RT bahwa ada warganya yang membutuhkan bantuan. Dan beliau meminta bantuan kepada warga yang dinilai cukup stabil dan mampu untuk memberikan bantuan semacam subsidi silang. Kabarnya, untuk urusan makan sehari-hari saja, mereka tidak mampu.

Maka, tanpa pikir panjang, dalam kondisi kami sedang berhemat pula, kami berikan sedikit yang kami miliki kepada mereka. Kami juga berusaha membeli produk yang mereka jual meski sebenarnya mahal dalam hitungan kami yang sedang berhemat. Setidaknya nasib kami masih jauh lebih beruntung.

Toh, hakikatnya kita sedang jual-beli dengan Allaah swt. Dan kami yakin betul konsepnya, jual-beli dengan Allaah swt tidak akan rugi.

Lagi-lagi, jual-beli kami untung besar. Sejak kami membantu tetangga, Allaah swt ganti dengan lini pemasukan finasial lain yang tidak kita duga. Tiba-tiba, penjualan buku kami menjadi laris manis. Saya beberapa kali mendapatkan kesempatan mengisi kuliah dan diskusi daring.

Baru saja kami menikmati punya pemasukan cukup banyak lagi, Allaah swt langsung menguji kembali. Ada saudara dekat yang membutuhkan pinjaman untuk menyelesaikan urusan bisnisnya yang mengalami penurunan drastis akibat pandemi COVID-19. Tanpa pikir panjang lagi, karena memang uangnya juga ada, kami langsung berikan pinjaman kepada saudara kami ini dengan harapan bisa menyelesaikan masalahnya.

Harapan kami masih tetap sama, jual-beli dengan Allaah swt tidak akan rugi. Namun, sepertinya kali ini keuntungannya agak lama. Kami mencoba lebih berhemat lagi karena memang pemasukan kami juga tersendat.

Dalam kondisi sempit tersebut, rupanya Allaah swt masih ingin menguji keseriusan iman kita pada konsep jual-beli di atas. Ada teman kami yang mendapat ujian, suaminya terkena kanker. Dia harus menafkahi keluarga kecilnya yang baru mulai merangkak. Lalu, ada sekelompok teman kami lainnya yang berinisiatif menggalang dana untuk membantunya.

Ketika informasi ini sampai ke kami, kami sempat bingung. Apakah akan ikut membantu meski kita juga sedang sangat berhemat. Tiba-tiba Dek Zahra menyampaikan kalimat yang biasa diucapkan kalau berurusan dengan pemberian kepada orang lain.

“Nggak papa habis banyak uangnya. Kan bukan buat kita. Jadi, inSyaaAllaah gampang besok pertanggungjawabannya. Kalau cuma buat kita tapi mewah-mewahan dan berlebihan, besok gimana tanggung jawabnya pas ditanya sama Allaah swt di akhirat?

Deg. Ya, benar. Hakikatnya, uang ini kan bukan milik kita. Kita hanya diberikan wewenang untuk men-tasharruf-kan uang sesuai anjuran dan ketentuan dari Yang Maha Memiliki. Maka, kami pun mantap untuk mengurangi tabungan kami hingga hanya tersisa sebagian kecil sekali untuk kami.

Kamu tidak akan mendapatkan kebaikan (surga), sebelum kamu menginfakkan harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allaah swt Maha Mengetahui.”

Surat Aali ‘Imraan ayat 92

Kami mengingat ayat di atas tersebut. Dan saat itu, kondisinya, kami benar-benar sangat menghargai uang yang kami kuasai itu. Sehingga, kami pun menyedekahkannya drngan berharap mendapatkan kebaikan dari Allaah swt.

Maka selepas itu, kami menanti-nanti bagaimana Allaah swt memberikan kejutan kebaikan untung dari jual-beli ini. Ternyata, apa yang menjadi harapan kami itu belum muncul. Sampai kami khawatir salah dalam niat atau cara sehingga Allaah swt tidak ridho.

Hingga tibalah masa mendekati Hari Raya Idul Adha ini. Kami mohon betul-betul kepada Allaah swt, di tengah keterbatasan ini, agar kami diberikan kelapangan rezeki supaya bisa berkurban. Paling tidak, keuntungan dari “jual-beli” beberapa waktu lalu bisa diberikan dan kami gunakan untuk berkurban.

Dan, alhamdulillaah, doa tersebut langsung dikabulkan Allaah swt. Tunggakan gaji, mukafaah mengisi kuliah daring, dan keuntungan penjualan buku tiba-tiba masuk rekening kami berurutan. Dan jumlahnya, betul-betul lebih dari cukup untuk berkurban. Maka, saat itu juga, kami langsung bayarkan uang yang baru saja kami miliki itu untuk biaya pembelian hewan kurban melalui Dompet Dhuafa.

*****

Lagi-lagi, jual-beli dengan Allaah swt tidak pernah merugi. Dan kini, kami sedang menanti keuntungan jual-beli dengan Allaah swt dalam ibadah kurban yang baru saja kami bayarkan biaya pembeliannya.

Allaah swt memang tak pernah ingkar janji. Dia sendiri yang menjamin dalam firman-Nya.

Sesungguhnya Allaah swt tidak pernah menyelisihi janji.

Surat Aali ‘Imraan ayat 9

Yaa Allaah, mudahkanlah kami, lapangkan rezeki kami, kokohkan hati kami, agar kami tidak ragu dan mampu melakukan transaksi jual beli dengan-Mu yang lebih besar.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *