Tamu Aneh

Pekan lalu, ketika saya sedang di rumah Abah-Ummi, saya menerima “tamu aneh”. Sebenarnya, sejak menikah, saya jadi tahu kalau rumah Abah-Ummi memang sering kedatangan “tamu aneh”. Kami sebut “tamu aneh”, karena tidak pernah diundang dan kepentingannya juga aneh.

Pernah ada orang datang minta tolong dicarikan jodoh. Padahal anak-anak Abah-Ummi sudah menikah semua kecuali Dek Khansa yang berusia 7 tahun. Santri-santri Abah-Ummi juga belum ada yang siap menikah. Pernah pula ada orang yang datang minta dicarikan anak angkat. Padahal rumah Abah-Ummi bukan tempat penitipan anak. Ada pula yang datang minta bantuan pinjaman. Padahal Abah-Ummi juga sedang memiliki hutang. Paling sering biasanya orang datang minta didoakan dan minta nasihat.

Begitu pula sore itu. Saya baru saja sampai rumah Abah-Ummi setelah menyelesaikan urusan di luar. Tiba-tiba, ada seorang laki-laki paruh baya datang diantar G*J*k. Bapak ini membawa tas ransel, jaket, dan wajahnya tampak kalut.

Mas, benar, Mas. Saya tertipu. Benar omongan njenengan kemarin. Orang yang bareng saya itu penipu.” Bapak tersebut tiba-tiba berujar saat melihat saya yang belum sempat menyapa dan mempersilakan.

Astaghfirullaah…Yasudah, sini-sini, Pak. Duduk dulu di sini, ditenangkan dulu hati dan pikirannya.” Saya menanggapi sembari mempersilakan duduk dan mencoba menenangkan.


Tempo hari, Bapak ini datang ke rumah Abah-Ummi untuk menjenguk anaknya yang dititipkan di Pesantren Aqwamu Qila. Saat itu, beliau datang dengan seorang anak muda seusia saya. Anak ini, mengaku sebagai saudara jauh dari Bapak tersebut. Kabarnya, dia lulusan Farmasi UG* angkatan 2013. Saat ini bekerja di RSUD And* Makas*** sebagai apoteker. Rencananya, dia ingin mengurus administrasi di UG* sembari melanjutkan perjalanan silaturrahim ke Pondok Pesantren Al-A***r di Purworejo. Katanya, dia kenal baik dengan kiai di sana.

Hanya saja, ketika Abah mengobrol sendiri dengan anak tersebut, dia mengaku sebagai dokter di RSUP Dr. Sard****. Pun ketika saya cek ke teman saya yang juga lulusan Farmasi UG* angkatan 2013, tidak ada yang tahu soal anak ini. Kami pun yakin ada yang tidak beres dengan anak ini.

Abah sebenarnya sudah memperingatkan Bapak tersebut agar berhati-hati. Mau bagaimana pun, Bapak tersebut adalah wali dari santrinya Abah-Ummi. Namun, sepertinya Bapak tersebut sudah berada dalam pengaruh penipu tadi.

Akhirnya, apa yang kami khawatirkan terjadi. Bapak tersebut ditipu hingga habis uang tiga juta rupiah. Ludes semua isi ATM dan dompetnya. Padahal, Bapak tersebut berencana untuk menggunakan uangnya untuk modal mencari pekerjaan supaya bisa menutupi hutangnya sebanyak tujuh puluhan juta.


Nasi sudah menjadi bubur. Bapak tersebut tampak tertekan dan kebingungan. Bagaimana bisa dia ditipu dan tidak sadar. Dia bingung bagaimana harus mencari pekerjaan. Dia juga bingung bagaimana membayar hutangnya.

Bapak itu akhirnya cerita panjang lebar. Mulai dari dia berhutang tujuh puluhan juta karena gagal bisnis jual-beli motor dan ditipu orang. Kemudian, dia bertengkar dengan istrinya perihal hutang tersebut. Di ujung pertengkarannya, dia marah dan berucap keras kepada istrinya,

Yasudah, aku mau pergi saja. Cari kerja dan uang sampai lunas. Nanti kalau sudah dapat baru pulang. Itu kan yang kamu mau?!” Bapak tersebut membentak istrinya lalu pergi dari rumah dengan bekal ala kadarnya. Sementara, istrinya yang masih emosi hanya bisa menangis dan membiarkan suaminya pergi.

Bukan perempuan namanya kalau tidak mudah rindu. Menjelang malam, sang istri mencari tahu kemana suaminya pergi. Namun, tidak ada kabar yang didapat. Kontak suaminya tidak bisa dihubungi, meski tersambung, namun tidak diangkat. Sementara Bapak tersebut, selayaknya laki-laki, merasa hina jika pulang tak membawa hasil. Pantang pulang sebelum dapat pekerjaan.

Hubungan tidak sehat ini berjalan sampai lima hari. Bapak tersebut tetap keukeuh dengan egonya, padahal dia juga tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya berpindah tempat dari masjid satu ke masjid lainnya. Bertanya ke orang-orang barangkali ada yang butuh bantuan tenaga pekerja. Sedangkan, sang istri di rumah juga mencari tahu kemana keberadaan suaminya. Dia menyesal membiarkan suaminya pergi.

Sampailah Bapak tersebut bertemu dengan anak lelaki yang ternyata adalah penipu. Anak tersebut meminta diantar ke Purworejo, ke Pondok Pesantren Al-A***r karena kehilangan dompet di perjalanan. Dia meminta Bapak tersebut untuk mengaku sebagai saudara jauhnya. Begitu pula seluruh biaya perjalanan ditanggung oleh Bapak tersebut. Sebagai gantinya, nanti akan diberikan pekerjaan sebagai sopir pesantren di Pondok Pesantren Al-A***r Purworejo. Uang yang digunakan juga akan diganti ibunya setelah sampai di sana.

Sungguh janji yang sangat manis. Janji yang membuat Bapak tersebut rela berbohong kepada Abah-Ummi, saya, dan semua orang yang ditemuinya. Demi bisa mendapatkan pekerjaan dan memiliki uang untuk cicilan melunasi hutangnya. Dan yang paling penting, dia punya kunci untuk kembali pulang ke rumah.

Namun, Allaah swt berkehendak lain. Allaah swt ingin memberikan pelajaran kepada Bapak tersebut, dan juga kepada saya. Bapak tersebut malah ditipu oleh anak muda yang ditolongnya. Uang sisa yang dimilikinya ludes. Seolah tak ada lagi pegangan selain hanya pada-Nya. Allaah swt ingin mengajarkan, jangan sekali-kali berharap dan bergantung pada selain-Nya.


Kisah Bapak tersebut, memberikan pelajaran yang berharga bagi saya. Bahkan, Bapak tersebut juga mengakui, banyak pelajaran yang beliau dapatkan. Apalagi, beliau sudah membayar mahal untuk pelajaran tersebut.

Pertama, jangan pernah meninggalkan rumah saat ada masalah keluarga. Kalaupun harus pergi, pergilah sejenak lalu kembali sebelum petang. Rumah adalah tempat kembali pulang. Apapun yang terjadi, masalah keluarga harus diselesaikan dalam keluarga. Boleh meminta tolong pihak ketiga. Namun, semua anggota keluarga harus ikut membantu menyelesaikan. Jangan pergi meninggalkan keluarga saat ada masalah.

Kedua, laki-laki adalah makhluk egois. Sedangkan perempuan adalah makhluk emosional. Keputusan keduanya selalu berkaitan erat dengan dua sifat yang menonjol tersebut. Maka, jangan pernah mengambil keputusan saat ego sedang tinggi atau dalam kondisi yang penuh emosional.

Ketiga, jangan pernah berbisnis, apalagi dengan modal pinjaman, jika belum paham betul aturan mainnya. Khalifah Umar ibn Al-Khaththaab ra pernah berkata,

Tidak boleh berjualan di pasar-pasar umat Islam orang yang tidak mengetahui halal dan haram. Sehingga iapun terjatuh pada riba dan menjerumuskan kaum muslimin pada riba.”

Keempat, jangan mudah mempercayai orang yang baru dikenal. Memang tidak boleh berprasangka buruk dengan orang lain. Namun, kita juga dituntut waspada dan berhati-hati agar tidak celaka.

Jangan pernah mempercayai orang sebelum melakukan tiga hal sebagaimana dinasihatkan oleh Umar ibn Al-Khaththaab ra. Membersamainya dalam perjalanan. Bermuamalah soal keuangan. Dan bertanya kepada istrinya, orang tuanya, atau orang terdekatnya.

Kelima, jangan pernah berharap dan bergantung kepada selain Allaah swt. Ali ibn Abi Thalib ra pernah berkata, “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.


Sungguh banyak pelajaran yang kami dapatkan dari “tamu aneh” yang Allaah swt kirimkan kepada kami. Alhamdulillaah, Allaah swt berikan kepekaan dalam hati kami untuk belajar. Maka sebagai gantinya, dan sebagai penghibur dari kami untuk Bapak tersebut, kami pun memberikan sedikit yang kami miliki kepada beliau.

Paling tidak, beliau bisa pulang ke rumah dengan uang tersebut. Beliau bisa memberi hadiah untuk keluarganya di rumah dan memperbaiki hubungan keluarga. Beliau juga bisa memulai usaha kembali atau mencari pekerjaan dengan modal uang tersebut. Dan bagi kami, sebagai tanda terima kasih atas jasanya menjadi perantara pelajaran bagi kami. Sekaligus, semoga bisa menghindarkan kami dari musibah serupa.

Sejenak kami merenung.

Di masa-masa sulit ini, di saat Dek Zahra koass dan belum jelas nasibnya seperti apa. Di saat saya mengerjakan banyak hal namun tidak ada timbal balik secara finansial. Di saat Rafika sedang tumbuh dan berkembang menguji kesabaran kami. Allaah swt berikan contoh di sekitar kami, bahwa masih banyak alasan yang membuat kami harus bersyukur. Masih banyak orang yang jauh tidak seberuntung kami.

Allaah…

Maafkan kami yang masih sering meminta padahal menuntut. Maafkan kami yang sering merasa bersyukur padahal masih merasa kurang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *