Bapak : Orang Tua Yang Memudahkan

Saya tak pernah mengira kalau Bapak akan pergi secepat itu. Di usianya yang menjelang 58 tahun, beliau meninggalkan kami sekeluarga untuk selamanya. Bapak meninggal dunia karena serangan jantung yang berulang. Bapak meninggalkan Ibu dan enam anaknya yang setengahnya belum beranjak dewasa.

Dulu, saya sempat menyesali takdir mengapa Bapak meninggal dunia secepat itu. Saya belum lulus kuliah. Saya belum menikah dan memiliki anak. Saya belum mampu membahagiakan Bapak dengan cita-citanya.

Nyatanya, Allaah swt memang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Bapak meninggal dunia di saat yang tepat. Dan dengan wafatnya beliau, secara tidak langsung memudahkan keluarga yang ditinggalkannya.


Bapak seolah memang ditakdirkan untuk menjadi orang tua yang memudahkan anak-anaknya. Sebelum menikah, Bapak bekerja keras dan belajar hingga memiliki penghasilan dan pendidikan yang layak. Hal itu beliau lakukan agar beliau bisa lepas dari jerat kemiskinan keluarganya.

Selepas menikah, Bapak bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Konon, Bapak bekerja minimal 10 jam sehari dan nyaris tidak ada hari libur. Hari kerja beliau gunakan untuk bekerja sebagai dosen dan guru. Akhir pekan, beliau gunakan untuk mengurusi bisnis. Waktu sisanya diberikan untuk dakwah dan keluarganya.

Meski sangat padat agenda, beliau tidak pernah absen mendampingi kami mengaji dan belajar malam tiap habis shubuh, maghrib, dan isya’. Beliau bekerja dan mendidik kami sedemikian keras karena memiliki cita-cita yang besar. Beliau ingin meninggalkan sebanyak-banyaknya anak keturunan yang berkualitas.

Dan hendaknya mereka (orang-orang yang beriman) takut jikalau mereka meninggalkan di belakang mereka anak-keturunan yang lemah, yang mereka takut (akan kesejahteraan) mereka…” (Q.S. An-Nisaa’ ayat 9)

Aktivitasnya yang sedemikian padat membuat beliau kadang lupa dengan kesehatan dirinya. Tuntutan cita-citanya membuat beliau seolah tak memiliki rasa lelah dan sakit. Pola hidup seperti itulah yang menjadi alasan mengapa Bapak menderita sakit degeneratif di usia yang relatif muda.


Namun, bukan Bapak jika menyerah dan putus asa dari cita-citanya. Ketika mengetahui dirinya mulai digerogoti penyakit diabetes, hipertensi, dan jantung, beliau meminta Ibu untuk melanjutkan kuliahnya. Beliau berharap Ibu tetap bisa mandiri dalam mengurus anak-anaknya.

Di hari-hari terakhir beliau, sering tiba-tiba beliau cerita tentang perjuangannya dan cita-citanya. Beliau juga sering mengingatkan nasehat-nasehat utamanya, saat kami, anak-anaknya, berjalan bersama beliau ke masjid. Beliau kenalkan rekan-rekannya kepada kami yang mulai beranjak dewasa. Beliau tidak lagi banyak memberi arahan kepada kami, anak-anaknya yang beranjak dewasa. Sebagai gantinya, kami dibiarkan memilih jalan kami sendiri namun harus siap dengan konsekuensinya.

Seolah beliau ingin memberikan modal untuk bekal hidup sebanyak-banyaknya kepada keluarganya jika sewaktu-waktu beliau dipanggil oleh Allaah swt. Seolah beliau ingin menyampaikan pesan bahwa waktunya tidak lama lagi. Seolah beliau ingin memastikan keluarganya betul-betul siap saat beliau sudah tiada.

Dan benarlah apa yang beliau sangka.

Tak berapa lama setelah Ibu lulus pascasarjana, Bapak meninggal dunia. Hari saat Bapak meninggal dunia adalah penutup dari berbagai nikmat yang baru saja dirasakan keluarga kami. Ibu baru saja diangkat dosen. Cicilan mobil sudah lunas. Uang kuliah dan sekolah semua anaknya sudah dibayar. Pas. Bapak meninggal saat semua tagihan keuangan dan tanggungan keluarga sudah selesai. Bapak meninggal dunia saat nilai-nilai yang diajarkan dan cita-citanya sudah ditransfer ke anak-anaknya.

Allaah swt benar-benar memanggil Bapak tepat pada waktunya. Ibu sudah memiliki penghasilan tambahan untuk membiayai adik-adik sekolah. Bapak juga meninggalkan warisan yang cukup untuk biaya kuliah anak-anaknya. Kami, anak-anaknya yang mulai beranjak dewasa pun juga sudah memiliki penghasilan minimal setara UMR meski masih kuliah dan bekerja part time.


Kini, 13 Agustus 2020, tepat lima tahun selepas Bapak meninggal dunia, saya tak lagi menyesali wafat di usia yang relatif muda. Justru, saya bersyukur atas takdir tersebut karena Bapak benar-benar memudahkan keluarga yang ditinggalkan.

Sepeninggal Bapak, Ibu jadi lebih termotivasi untuk menyelesaikan studi doktoralnya. Kami yang beranjak dewasa juga terpacu untuk segera hidup mandiri. Itulah yang menjadi salah satu alasan kami mampu menikah di usia yang relatif muda pula.

Bapak benar-benar menyiapkan modal keterampilan dan ilmu untuk hidup anak-anaknya. Beliau juga mewariskan harta yang cukup untuk mendukung proses belajar anak-anaknya sebelum menjadi pribadi yang produktif dan mandiri. Beliau juga menyiapkan Ibu untuk bisa berkarir selepas anak-anaknya beranjak dewasa dan bisa menentukan jalan hidupnya masing-masing.

Beliau tidak memberatkan kami untuk merawatnya karena beliau meninggal dunia saat masih produktif. Beliau wafat sebelum dikembalikan ke masa anak-anak kecil yang kadang merepotkan dan menuntut kesabaran. Beliau memudahkan kami yang beranjak dewasa untuk belajar lebih mandiri, berani mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas segala konsekuensinya. Beliau memudahkan kami dengan meninggalkan sesuatu yang terbaik untuk diwariskan, yaitu ilmu agama dan Al-Quran.

Sungguh, Allaah swt adalah Dzat Yang Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Terima kasih telah memberikan sosok Bapak yang senantiasa berjuang untuk anak-anak dan keluarganya.

Allaahumma (i)ghfirlahuu wa (i)rhamhuu wa ‘aafihii wa (u)’fu ‘anhu. Allaahumma (i)j’al tsawaaba a’maalinaa wa min ‘uluuminaa lahuu aidhaa.

#RefleksiLimaTahunBapakWafat


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *