Meredam Khawatir

Ada yang serasa hancur di sini, di dalam tulang rusuk ini. Kala melihat Rafika begitu lemah fisiknya karena demam yang tak kunjung reda. Perasaan makin kacau ketika termometer naik terus setelah tiga hari. Tanpa gejala lain yang menjadi clue apa sebabnya. Kemudian berlanjut. Empat hari, lima hari, dan enam hari.

Sebagai ibu, saya khawatir setengah mati. Tapi sebagai dokter, Mas Fahmi tahu kalau Rafika cuma butuh paracetamol dan orangtuanya cuma butuh tenang. Kecuali berlanjut lagi sampai beberapa hari.

Dan memang berlanjut. Lalu memutuskan untuk pergi ke puskesmas untuk cek darah rutin. Sepanjang perjalanan saya sibuk menyusun jawaban, kalau ditanya kenapa baru ke sana setelah enam hari. Dan yah, benar ditanya. Serasa gagal jadi ibu. Akhirnya saya bilang saja kalau ayahnya dokter.

Surprisingly, dokter puskesmas itu bilang, “Bener kok ayahnya, demam begini cuma butuh parasetamol”. Meski kemudian mengedukasi saya untuk cure penyebab aslinya dengan cukup di rumah saja.

Di perjalanan pulang naik motor pagi itu, separuh kekhawatiran saya melayang pergi bersama angin. Mengamini Mas Fahmi yang adem ayem saja dari kemarin-kemarin.


Sebagai ibu, sungguh, ada jutaan khawatir yang tertancap kuat di dalam hati sana. Khawatir akan masa depan, akan tinggal di mana besok, pendapat orang mengenai diri kami, tumbuh kembang Rafika, adik kecil di rumah ngajinya bagaimana, adik-adik ipar apakah bahagia di rumah, apakah uang yang ada cukup untuk sehari-hari, makan apa besok, dan jutaan kekhawatiran lain. Yang kalau ditulis sampai rinci, mungkin tiap detik akan berganti kekhawatiran yang saya hadapi.

Tapi sepanjang perjalanan bahtera saya dengan Mas Fahmi, kekhawatiran itu harus ditahan. Dikunci rapat-rapat kecuali sudah benar-benar kelewatan. Bukan karena tidak boleh khawatir, tapi karena setiap khawatir yang terlontar tidak hanya membuat saya tambah repot saja, tapi juga membuat Mas Fahmi merasa tidak dipercaya. Karena memang cuma saya saja yang overthinking, keadaan tetap baik-baik saja tanpa dipikirkan.

Awalnya, susah sekali untuk tidak merasa khawatir. Rasanya ingin sekali bertanya, “Gimana caranya punya rumah?”, “Apakah kita perlu ke dokter anak?”, “Apakah tidak apa-apa shalat di rumah di tengah pandemi padahal Mas Fahmi adalah imam tetap?”, “Apakah kita perlu ke psikolog?”, “Apakah kita perlu sedekah lebih banyak supaya membersihkan harta”, dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menjadi manifestasi kekhawatiran saya.

Tapi kemudian saya sadar. Sejak bahtera ini berlabuh, Mas Fahmi adalah nahkodanya. Saya cuma anak buah kapal. Di tengah samudera, banyak bertanya yang tidak perlu hanya akan membuat sang nahkoda repot sehingga jalannya kapal jadi tidak efisien. Serahkan saja semuanya, laksanakan yang menjadi tugas dan apa yang diperintahkan, laporkan yang memang butuh penanganan, minta advis kalau memang dibutuhkan, mengingatkan jika ada kesalahan. Sudah.


Di telinga suami, khawatirnya istri adalah sebuah tanda bahwa sang istri tidak cukup percaya padanya. Sehingga meredam khawatir, sejatinya adalah ikhtiar merawat ego suami. Yang tinggi sekali itu. Yang kalau direndahkan sedikit saja, akan menjadi luka yang dalam untuknya. Yang kalau sudah terluka, dampaknya tidak cuma pada keluarga di rumah, tapi juga performa di tempat kerja, kepercayaan diri, kemampuan mengambil keputusan, hingga kejantanan.

Merawat ego suami itu, maasyaAllaah, susahnya setengah mati. Tidak hanya harus meredam ego sendiri, tapi harus memikirkan betul-betul bagaimana harus berkata dan berbuat. Meski kita tahu kita benar. Tapi yang benar itu, belum tentu baik untuk disampaikan semuanya.

Somehow, merawat ego suami yang sulit sekali dilakukan itu, adalah sebuah bentuk ketaatan. Sejatinya, taat diperintahkan salah satunya untuk menjaga qawwam. Sebaliknya, qawwam dianugerahkan untuk memudahkan kita para istri untuk taat. Hubungan antara qawwam dengan ketaatan inilah yang kemudian melahirkan Sakinah, Mawaddah wa Rahmah. Bayangkan saja kalau kita banyak khawatir, sakinah atau rasa tenang akan sulit tercapai. Kalau sakinah saja setengah-setengah, bagaimana mungkin akan mencapai mawaddah lagi rahmah?

Maka untuk para istri yang Allaah beri kelebihan rasa khawatir, salurkan kekhawatiran itu pada bangun tahajud yang lebih awal, sujud yang lebih panjang, do’a yang lebih beradab, interaksi bersama Quran yang lebih banyak. Allaah jauh lebih berhak mendengarkan kekhawatiran kita dibanding suami yang telah setengah mati berjuang untuk hajat hidup kita.

Semoga Allaah selalu mudahkan :”)

One thought to “Meredam Khawatir”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *